bertaubalah sebelum terlambat

Manusia adalah makhluk lemah. Tak kuasa untuk bersih dari dosa dan maksiat. Ditambah dengan godaan pasukan iblis yang berusaha selalu menyeretnya ke dunia hitam. Di saat yang sama, Allah membuka pintu taubat yang seluas-luasnya, agar mereka tidak putus asa dari rahmat Sang Pencipta. Tinggal satu yang perlu digugah: Kapan saatnya kita mau bertaubat?

Dari Pemuda untuk Kejayaan Peradaban

Kekuatan dan kapasitas pemuda dalam menuntut ilmu dijalan Alllah SWT

Belajar dari masa lalu

Kemarin adalah masa lalu yang bisa dijadikan pelajaran untuk menjalani hidup di masa sekarang demi meraih sebuah harapan di masa depan yang lebih baik dari masa lalu dan masa sekarang

Hargai waktu, Karena masa lalu tak dapat diubah

Menjadi apa anda di 5 tahun mendatang adalah cerminan sikap dan aktivitas yang anda lakukan sekarang itu tercemin dari bagaimana anda menggunakan waktu anda. Gunakan waktu dengan bijak karena waktu terus berjalan tanpa memihak kepada siapapun. Waktu sangatlah berharga dan terbatas dan sudah seharusnya di gunakan dengan sebaik-baiknya.

Ulul Albab (Generasi Muslim Cerdas Berkualitas)

Cerdas dalam kaca mata kita tentu ditujukan untuk mereka yang pandai mengurai dan memecahkan masalah dalam ilmu pengetahuan tertentu, atau mereka yang mampu menyelesaikan satu problem tertentu. Tapi kita tak pernah siap mendalami apa konsep manusia cerdas dengan kacamata wahyu, yaitu pandangan Alloh subhaanahu wata’ala .

Kamis, 12 Mei 2016

Penciptaan Hewan

Hewan merupakan makhluk hidup ciptaan Allah swt yang memiliki habitat, cara hidup dan perilaku, ukuran, warna, bemtuk yang beragam-penuh dengan kejaiban. Para ahli zoology telah melakukan kajian tentang fenomena fauna untuk menyingkap misteri dunua binatang. Dalam perspektif Al Quran hewan merupakan salah satu bagian dari ayat-ayat Allah swt yang harus di kaji dan direnungkan. Jika fenomena tersebut di renungkan dapat mengungkap tanda-tanda eksistensi dan kekuasan Allah swt serta dapat memeperkokoh keimanan bagi orang-orang yang meyakininya. Pemahaman yang benar dan mendalam dapat mendekatkan diri kepada Allah swt.[1]

“Tahukah kalian semua jenis binatang?” Kami tahu kalian mengatakan “Tidak semua. Hanya beberapa dari mereka.” Tahukah kalian kehidupan makhluk-makhluk ini? Tahukah kalian bagaimana mereka dilahirkan? Bagaimana mereka hidup? Bagaimana mereka melindungi diri dan mencari makan? Barangkali kalian tak memiliki gambaran tentang seluk beluk kehidupan binatang.[2]
Ketika melihat keindahan binatang-binatang ini, ketahuilah bahwa Allah, Sang Pencipta semua makhluk ini, hanya ingin agar kita berpikir tentang keahlian dan kekuasaan-Nya yang tak terbatas, mengakui bahwa Dia telah menciptakan segala sesuatu dan Dialah pemilik segala sesuatu. Allah juga menginginkan kita melihat keindahan dalam makhluk hidup ini, untuk mendapatkan kesenangan darinya dan oleh karenanya kita mencintai Allah dan berterima kasih kepada-Nya karena Allah Allah telah menciptakan makhuk-makhluk mempesona ini.
Dalam makalah ini, saya mencoba menguak tentang dunia hewan (fauna) dalam ayat-ayat kauniyah yang ada dalam Al Quran. Tentunnya dengan memahami ayat-ayat tersebut dapat mengantarkan kita dan memberikan kesadaran bagi kita semua bahwa Allah menciptakan makhluk dalam dunia itu beraneka ragam, tidak hanya manusia saja. Kita dituntut dapat hidup berdampingan dengan segala sesuatu yang Allah ciptakan, karena fitrah manusia di ciptakan itu sebagai khalifah. 
PEMBAHASAN
A.    Seurat An-Nur: 45
1.      Redaksi Ayat dan Terjemahannya
وَاللَّهُ خَلَقَ كُلَّ دَابَّةٍ مِن مَّاء فَمِنْهُم مَّن يَمْشِي عَلَى بَطْنِهِ وَمِنْهُم مَّن يَمْشِي عَلَى رِجْلَيْنِ وَمِنْهُم مَّن يَمْشِي عَلَى أَرْبَع
 يَخْلُقُ اللَّهُ مَا يَشَاء إِنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
Artinya:
“Allah telah menciptakan semua jenis hewan dari air. Maka, sebagian dari hewan itu ada yang berjalan di atas peurtnya dan sebagian berjalan dengan dua kaki, sedang sebagian (yang lain)berjalan dengan empat kaki. Allah menciptakan apa yang dikehendakin-Nya, sesungguhnya Allah Maha Kuasa tas segala sesuatu.”
2.      Tafsir Ayat
Dalam ayat ini, Allah telah membuktikan kekuasanNya dengan menerangkan ihwal langit dan bumi serta peninggaalan alam yang tinggi. Berikut ini Allah membuktikannya denagn hal ihwal hewan:
 وَاللَّهُ خَلَقَ كُلَّ دَابَّةٍ مِن مَّاء Allah menciptakan setiap hewan yang melata di muka bumi dari air yang merupakan bagian materinya.
Disebutkannya air secara khusus diantara materi-nateri lain yang merupakan komposisinya, disebabkan sangat menonjolnya kebutuhan hewa terhadap air dank arena bagian-bagiannya yang bersifat tanah yang bercampur dengannya
 فَمِنْهُم مَّن يَمْشِي عَلَى بَطْنِهِ Diantara ada yang berjalan diatas perurnya, seperti ular, ikan dan hewan reptilian lainnya. Geraaakannya disebut berjalan pada hal ia merayap menunjuk kepada kemampuannya yang sempurna dan bahwa sekalipun tidak mempunyai alat untuk berjalan namun seakan ia berjalan.
  وَمِنْهُم مَّن يَمْشِي عَلَى رِجْلَيْAda yang berjalan diatas dua kaki, seperti manusia dan burung.
وَمِنْهُم مَّن يَمْشِي عَلَى أَرْبَعٍ  Ada pula yang berjalan diatas empat kaki, seperti binatang-binatangternak dan binatang buas.
Allah tidak menyebutkan binatang yang berjalan diatas lebih dari empat kaki. Seperti laba-laba dan serangga lainnya.
يَخْلُقُ اللَّهُ مَا يَشَاء  Allah menciptakan apa yang dikehendakiNya diantar yang telah disebutkan dengan perbedaan bentuk, anggota tubuh, gerak, tabiat, kekuatan dan perbuatan.
إِنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ  Sesungguhnya Allah Maha Kuasa untuk mengadakan dan menciptakan segala sesuatu yang Dia kehendaki, Dia tidak berhalangan untuk menciptakan apapun yang Dia kehendaki.
Pendek kata, perbedaan hewan-hewan ini dalam anggota, kekuatan, ukuran badan, perbuatan dan tingkah lakunya, mesti diatur oleh Pengatur Yang Maha Bijaksana, Ynag Mengetahui segalaihwal dan rahasia penciptaannya, tidak ada sesuatu sekecil apa pu  di bumi dan langit yang tidak Dia ketahui, Maha Tinggi Allah setinggi-tingginya dari apa yang dikatakan oleh orang-orang yang ingkar.[3]                                                                                                         
B.     Surat Al-An ‘am: 38
1.      Redaksi ayat dan terjemahannya
وَمَا مِن دَآبَّةٍ فِي الأَرْضِ وَلاَ طَائِرٍ يَطِيرُ بِجَنَاحَيْهِ إِلاَّ أُمَمٌ أَمْثَالُكُم مَّا فَرَّطْنَا فِي الكِتَابِ مِن شَيْءٍ ثُمَّ إِلَى رَبِّهِمْ يُحْشَرُونَ
Artinya:
” Dan tiadalah binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan umat-umat (juga) seperti kamu. Tiadalah kami alpakan sesuatu pun di dalamal-Kitab, kemudian kepada Tuhan lah mereka dihimpunkan
2.      Tafsiran Ayat
Secara umum, kita bisa menyimpulkan bahwa ayat ini bertujuan untuk menunjukkan betapa besar kuadrat kekuasaan Allah swt., dalam rangka membuktikan kemampuan-Nya memenuhi permintaan kaum kafir itu, yakni memenuhi kebutuhan binatang yang ada di darat, laut dan udara, sebagaimana Dia memenuhi kebutuhan manusia.
Asy-Sya’rawi menguraikan hubungan ayat ini dengan yang sebelumnya bahwa sesungguhnya Allah Swt. telah menjelaskan kepada kita bahwa Dia yang Maha Kuasa telah menurunkan ayat-ayat yang Dia ketahui bahwa fitrah manusia yang sehat akan menerima dan mempercayainya sebagai ayat/bukti. Allah Swt telah menurunkan ayta-ayat Al-Qur’an bagi seluruh manusiaagar mereka percayakepad Rasul yang membawanya dan Al-Qur’an menjadi pedoman hidup bagi kebahagiaan umat manusia. Allah Swt manjadikkan manusia sebagain penguasa alam, semua wujud melayani mereka. Sungguh sangat wajar manusia memperhatikan dan menyadari bagaimana binatang-binatang ditundukkan Allah untuk kemaslahatan manusia, demikian juga bagaimana Allah menciptakan tumbu-tumbuhan untuk kepentingan binatang dan manusia. Maka jika Allah swt telah menundukkan semua itu untuk manusia demi kemaslahatan mereka sambil memberi kepada  masing-masing binatang dan tumbuhan itu sistem serta naluri yang sesuai baginya sekaligus mendukung fungsinya dan dalam bentuk yang menyenangkan manusia. Maka bagaimana mungkin Allah swt membiarkan manusia tanpa petunjuk dan ketentuan-ketentuan demi kebahagiaan hidup makhluk yang Dia jadikan khalifah di muka bumi ini?
Kata  بِجَنَاحَيْهِ (dengan kedua sayapnya) dalam ayat diatas  طَائِرٍ يَطِيرُ بِجَنَاحَيْهِ  (burung yang terbang dengan kedua sayapnya), dibahas oleh ulama. Karena bukankah kata kedua sayapnya tidak diperlukan lagi setelah ditegaskannya kata burung? Sementara ulama berpendapat bahwa kata kedua sayapnya dimaksudkan untuk mengarahkan pandangan pendengar dan pembaca ayat ini akan kekuasaan Allah swt dalam penciptaan makhluk tersebut.
Ada juga yang berpendapat bahwa redaksi dengan kedua sayapnya, dimaksudkan untuk memberi makna menyeluruh sehingga mencakup segala jenis burung yang dapat terbang, tidak jauh berbeda tujuannya dengan penambahan kata bumi ketika ayat ini menyebut kata dabbah/ binatang. Penekanan tentang cakupannya yang menyeluruh itu diperlukan, karena boleh jadi sementara atau bahkan banyak orang tidak menyadari hakikat yang diungkap al-Qur’an ini, yakni binatang laut, darat dan udara adalah umat seperti manusia juga.
Ayat diatas tidak menyebut binatang laut atau sungai, karena laut / sungai adalah bagian dari bumi. Tiga perempat bagian bumi adalah air, dan  karena itu pula makhluknya dinamai dabbah/ binatang.
Kata ummah/ umat menunjuk kepada kelompok apa pun yang dihimpun oleh sesuatu, seperti agama, waktu, tempat, tujuan, sifat yang sama, baik penghimpunannya secar terpaksa maupun atas kehendak mereka.
Persamaan manusia dengan binatang-binatang laut, darat dan udara yang dimaksud ayat ini adalah keserupaan dalam berbagai bidang seperti, mereka juga hidup, beranjak dari kecil hiingga besar, merasa, tahu, mmemilki naluri. Tentu saja persamaan manusia denagn binatang-binatang itu tidak menyeluruh mencakup segala aspek, tidak juga setingkat, misalnya dalam kebuituhan, kekuatan  atau pikiran. Pernyataan al-Qur’an bahwa binatang-binatang itu adalah umat seperti manusia juga, antara lain perlakuan yang wajar terhadap mereka. Dalan konteks ini Nabi saw memerintahkan antara lain bila kita hendak menyembelih binatang supaya mengasah pisau terlebih dahulu.
Kata  الكِتَابِ (al-kitab) difahami oleh sementara ulama dalam arti al-Lauh Al-Mahfuzh, sedangkan al-Lauh al-Mahfuzh ada yang memahaminya sebagai sesuatu yang menghimpun apa yang telah, sedang, dan akan terjadi sejak awal kejadian hingga akhir masa. Ada juga yang memahaminya sebagai lambang yang menunjuk kepada Ilmu Allah yang mencakup segala sesuatu.
Jika al-Kitab dipahami seperti itu,maka ayat ini seakan-akan menyatakan” Keserupaan sistem atau tata cara hidup binatang laut, darat dan udara dengan manusia, membuktikan bahwa Allah swt tidak menciptakannya sia-sia, wujudnya pun memiliki tujuan, dan masing-masing tidak terhalangi unutk mencapai kesempurnaan sesuai dengan potensi yang dianugerahkan Allah kepadanya. Manusia juga demikian, dan karena semua telah diketahui Allah serta terrcatat dalam Lauh Mahfuzd, maka semua akan dihimpun kelak di hari Kemudian.
Firman Nya:” kemudian kepada Tuhan lah mereka dihimpun”, oleh sementara ulama dijadikan dalil tentang akan dibangkitkannya binatang-binatang walau tujuan kebangkitannya tidak sepenuhnya sama dengan manusia. Pendapat ini mereka kukuhkan antara lain dengan firmanNya yang menjelaskan hari Kemudian yaitu: “Apabila binatang-binatang liar dikumpulkan”(Q.S.At-Takwir:5), selain itu ada juga beberapa hadits yang mendukung hal itu.
Ada juga ulama yang memahami ayat dan hadits tentang akan dihimpunnya binatang dalam arti majazi,simbol kesempurnaan keadilan yang ditegakkan Allah ketika itu. Ada pula yang memahami kata يُحْشَرُونَ dalam arti mati. Pendapat lain membatasi yang dihimpun hanya makhluk yang berakal saja. Betapapun yang pasti adalah keadilan sempurna hanya akan terwujud di akhirat kelak.[4]
C.     Surah An Naml: 6-9
1.      Redaksi surah dan Terjemahannya
وَلَكُمْ فِيهَا جَمَالٌ حِينَ تُرِيحُونَ وَحِينَ تَسْرَحُونَ (6) وَتَحْمِلُ أَثْقَالَكُمْ إِلَى بَلَدٍ لَمْ تَكُونُوا بَالِغِيهِ إِلَّا بِشِقِّ الْأَنْفُسِ إِنَّ رَبَّكُمْ لَرَءُوفٌ رَحِيمٌ (7) وَالْخَيْلَ وَالْبِغَالَ وَالْحَمِيرَ لِتَرْكَبُوهَا وَزِينَةً وَيَخْلُقُ مَا لَا تَعْلَمُونَ (8) وَعَلَى اللَّهِ قَصْدُ السَّبِيلِ وَمِنْهَا جَائِرٌ وَلَوْ شَاءَ لَهَدَاكُمْ أَجْمَعِينَ (9)
Artinya:
(6) Dan kamu memperoleh pandangan yang indah padanya, ketika kamu membawanya kembali ke kandang dan ketika kamu melepaskannya ke tempat penggembalaan. (7) Dan ia memikul beban-bebanmu ke suatu negeri yang kamu tidak sanggup sampai kepadanya, melainkan dengan kesukaran-kesukaran (yang memayahkan) diri. Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. (8) dan (Dia telah menciptakan) kuda, bagal dan keledai, agar kamu menungganginya dan (menjadikannya) perhiasan. Dan Allah menciptakan apa yang kamu tidak mengetahuinya. (9) Dan hak bagi Allah (menerangkan) jalan yang lurus, dan di antara jalan-jalan ada yang bengkok. Dan jikalau Dia menghendaki, tentulah Dia memimpin kamu semuanya (kepada jalan yang benar).
   2.  Tafsir mufrodat:[5]    
جَمَالٌ : sebagai perhiasan
جَائِر : menyimpang dari jalan yang lurus.
3.      Tafsir ayat:
            Pada ayat 6, Sayyid Qutb berkomentar bahwa ayat ini menggambarkan pandangan al Quran dan pandangan Islam tentang kehidupan. Keindahan unsur asasi dalam pandangan Islam itu, dan bahwa nikmat bukan sekedar pemenuhan kebutuhan primer dalam bentuk makanan, minum dan mengendarai kendaraan, teapi juga pemenuhan kerinduan yang melampaui kebutuhan pokok, yakni pemenuhan naluri keindahan serta perasaan gembira dan rasa kemanusiaan yang mengatasi kecenderungan dan kebutuhan binatang. Demikian lebih kurang Sayyid Qutb.
            Sedangkan ayat berikutnya (ayat 7) menjelaskan betapa Maha pengasih lagi Maha penyayangnya Allah kepada hambanya, dengan menciptakan binatang-binatang Allah memberikan manfaat darinya. Ditunjukkan dalam ayat ini bahwa binatang-binatang tertentu dapat membantu kalian semua dalam berpergian ke suatu daerah (Negara) yang kalian tidak mampu sampai Negara tersebut kecuali dengan bantuan dari binatang-binatang. Membantu disini maksudnya ialah memikul beban-beban (وَتَحْمِلُ أَثْقَالَكُمْ)  yang serasa kalian tidak mampu membawanya sendiri. Kecuali ada yang membantu (hewan) kalian untuk mengurangi beban atau kesulitan (keletihan yang demikian besar sehingga menghabiskan setengah kekuatan dari kalian)[6] dalam perjalanan tersebut.[7]
            Ketahuilah Allah swt telah menyebutkan dalam Al Quran tentang manfaat-manfaat hewan. Manfaat tersebut ada yang bersifat dhoruri dan mempunyai manfaat yang sebagai mana mestinya hewan tersebut dapat di manfaatkan.[8] Setelah ayat yang lalu menyebut binatang-binatang yang paling banyak dimiliki manusia sekaligus paling banyak manfaatnya, kini disebut lagi beberapa binatang lain, Yaitu pada ayat ke-8.
            Allah menciptakan tiga hewan yaitu kuda, bighal dan keledai untuk kalian supaya kalian dapat mengendarainya dan menjadikannya sebagai hiasan. Ayat ini hanya sebagai alat pengangkutsebagaimana halnya binatang ternak, ini bukan berarti bahwa ketiga binatang yang disebut disini tidak dapat digunakan sebagai alat angkut. Ayat ini berdialog dengan masyarakat arab yang ketika itu yang tidak terbiasa menggunakan kuda, baghal, keledai kecuali sebagai tunggangan dan hiasan. Kuda dan baghal mereka gunakan untuk berperang dan berburu, sedang keledai mereka tunggangi sebagai alat transportasi dalam kota. Karena ayat ini bertujuan menguraikan nikmat-nikmat Allah swt, maka tentu saja yang digarisbawahinya adalah hal-hal yang mereka rasakan langsung, walaupun yang tidak disebut itu merupakan juga aspek nikmat ilahi.
            Pada ayat ke-9, betapa Allah telah menjelaskan atau menunjukkan jalan kebenaran kepada kalian semua. Yang mengantarkan pada jalan kebenaran, sehingga kalian terhindar dari jalan yang menyimpang. Allah tidak hendak mengantarkan kalian secara langsung kepada jalan kebenaran. Akan tetapi Allah lebih menghendaki kalian dalam memberikan petunjuk, karena Allah menciptakan kalian semua itu supaya kalian berfikir dalam memahami petunjuk Allah. Dan Allah juga meniggalkan suatu alternative atau opsi supaya kalian dapat memilihnya.
D.    Surah An Naml: 66
وَإِنَّ لَكُمْ فِي الْأَنْعَامِ لَعِبْرَةً نُسْقِيكُمْ مِمَّا فِي بُطُونِهِ مِنْ بَيْنِ فَرْثٍ وَدَمٍ لَبَنًا خَالِصًا سَائِغًا لِلشَّارِبِينَ
      1. Redaksi ayat dan Terjemahannya
66. Dan sesungguhnya pada binatang ternak itu benar-benar terdapat pelajaran bagi kamu. Kami memberimu minum dari pada apa yang berada dalam perutnya (berupa) susu yang bersih antara tahi dan darah, yang mudah ditelan bagi orang-orang yang meminumnya.
2. Tafsir mufradat
2.      Tafsir Ayat
            Setelah menyebut air yang turun dari langit, kini diuraikan sebagian yang di bumi. Ayat ini memulai dengan sesuatu yang paling banyak dan dekat dalam benak masyarakat arab ketika itu, yakni binatang ternak. Dan untuk itu disebut susu yang di hasilkannya, dan dengan demikian bertemu dua minuman yang keduannya di butuhkan manusia dalam rangka makanan yang sehat dan sempurna, yakni susu.
            Para penyusun kitab tafsir al muntakhab yang terdiri dari sekian pakar mesir mengomentari proses terjadinya susu dengan menyatakan bahwa: “pada buah dada binatang menyusui terdapat kelenjar yang bertugas memproduksi air susu. Melalui uarat-urat nadi arteri, kelenjar-kelenjar itu mendaoatkan suolai berupa zat yang terbentuk dari darah dan chyle (zat-sat dari sari makanan yang telah di cerna) yang keduanya tidak dapat di konsumsi secara langsung. Selanjutnya kelenjar-kelenjar susu itu menyaring dari kedua zat itu unsur-unsur penting dalam pembuatan air susu dan mengeluarkan enzim-enzim yang mengubahnya menjadi susu yang berwarna dan aromanya sama sekali berbeda dengan zat aslinya”.[9]
E.     Analisis ayat-ayat berdasarkan perspektif sains:
Penelitian berbagai kelompok hewan dan perilakunya telah dilakukan secara cermat dan akurat, dengan menggunakan beragam peralatan canggih hinnga satelit. Para penelitipun menemukan adanya kelompok-kelompok hewan yng hidup di tiga area biologis: udara, darat dan air. Dan penemuan terkini terus memperlihatkan hal-hal baru seiring dengan kemajuan sains tekhnologi. Temuan-temuan ini juga memperlihatkan keteraturan yang signifikan dalam aktifitas kolektif setiap kelompok hewan untuk kemaslahatan dan kelangsungan hidup mereka dalam bertempat tinggal, bermigrasi, membangun tempat tinggal, mempertahankan diri, mencari makanan, dan aktifitas-aktifitas lainnya.[10] Para ilmuwan memperkirakan jumlah hewan mencapai lebih dari dua juta kelompok (family). Namun yang baru terngkap hingga sekarang hanya sebagian kecil saja.
Dalam fenomena hewan itu dikaji dari berbagai sub-devisi disiplin ilmu biologi dan zoology  seperti: anatomi, morfologi, fisiologi, reproduksi, taksonomi, ekologi dan lain-lain. Dalam konteks dan bingkai sub-divisi displin ilmu tersebut, pemakalah akan  mencoba membahas fenomena fauna yang terkandung dalam ayat-ayat Al-Quran.
A.    Anatomi Hewan
Anatomi hewan adalah merupakan ilmu yang mempelajari mulai dari sel, jaringan, organ dan sampai organisme. Dengan anatomi, manusia akan mengetahui struktur dan bentuk dalam suatu organisme. Dengannya pula akan diketahui jika terjadi kelainan-kelainan pada suatu organisme
Dalam surah Al An`am, ayat 38, disana dapat kita temukan fenomena yang terdapat pada hewan-hewan, yaitu terdapat perbedaan antara binatang-binatang yang melata dengan binatang yang terbang dengan kedua sayapnya. Secara anatomis perbedaan antara keduanya tersebut, terletak pada struktur kerangka dan fungsi rangka. Misalnya, domba dan burung sebenarnya mempunyai tulang yang menyusun rangka sebagai lengan depan. Hanya saja lengan depan domba untuk berjalan sedangkan burung untuk terbang fenomena ini jika jika di analisis secara mendalam dan di terapkan pada masing-masing jenis hewan yang sudah teridentifikasi, akan menjadi obyek kajian yang luar biasa luas dan kompleksnya.[11]
B.     Morfologi hewan
Sebagaimana kita ketahui bahwa morfologi mempelajari “penampakan” bentuk luar organisme. Morfologi merupakan ilmu yang mepelajari struktur dan bentuk luar suatu organism sampai dengan perkembangannya. Mulai dari bentuk badan dan perkembangan serta manfaat bagian tubuh makhluk hidup. Studi morfologi pada hewan juga dapat membantu kaum muslimin dalam mengidentifikasi jenis-jenis hewan-hewan yang dihalalkan dan diharamkan.
Pada surah Al An`am, ayat 38 dan Al Mulk ayat 19 menyebutkan binatang yang ada di bumi dan burung yang terbang di udara dengan kedua sayap. Ini sebuah gambaran morfologis yang menunjukkan adanya perbedaan antara hewan dengan dasar struktur luar tubuhnya. Bagi burubg di sebutkan memiliki sayap, sebuah organ yang tidak dimiliki oleh semua jenis hewan. Hanya bangsa Aves yang mempunyai hal tersebut. namun tidak semua Aves yang juga dapat terbang seperti burung, bahkan setiap burung memiliki cara terbang yang berbeda-beda.[12]
C. Fisiologi Hewan
Kalau kita melihat fenomena hewan, pastinya akan lebih menarik ketika dikaji dari segi fisiologis. Fisiologis merupakan ilmu yang mempeljari proses yang terjadi dalam makhluk hidup, seperti proses pencernaan, pernafasan, hormonal, ekskresi, metabolism dan lain-lain.
Coba kita perhatikan pada surat An Nahl ayat 66, disana terdapat suatu `ibarah atau suatu pelajaran bagi manusia. Maurice Bucaile dalam bukunya Bibel Quran dan Sains Modern menjelaskan bahwa terjemahan Batn dengan badan lebih tepat dari pada perut, karena menurutnya kata batn tidak memiliki arti anatomi yang pasti. Demikian juga kata fars dengan usus. Secara fisiologis lebih tepat dari pada diterjemahkan dengan tahi atau kotoran.[13]
Bucaille lebih lanjut menjelaskan bahwa unsur-unsur susu itu keluar dari kelenjar-kelenjar penyusuan yang mendapat bahan makanan dari kunyahan makanan-makanan yang dibawa oleh darah yang beredar.[14] Contoh yang saya berikan disini ialah binatang onta, karena dalam buku-buku referensi ilmiah kontemporer menjelasakan bahwa dari segi komposisi susu onta dan manfaatnya sebagai bahan makanan dan obat-obatan.
Statistik menunjukkan bahwa onta betina dapat dapat diperah susunya sepanjang tahun rata-rata dua kali sehari, dan kira-kira dalam satu hari seekor onta betina menghasilkan 5-1- kg susu, sementara kalau dihitung dalam satu tahun penuh seekor onta bisa menghasilkan skitar 230-260. Kandungan air yang ada dalam air susu onta berkisar antara 84-90% . oleh karena itu , air susu berperan penting dalam menjaga kelangsunagn hidup anak onta dan penduduk yang hidup di kawasan bencana kekeringan.[15]
D. Reproduksi Hewan
Salah satu fenomena alam yang merupakan tanda-tanda kekuasaan Allah SWT adalah perkembangbiakan makhluk hidup. Reproduksi hewan merupakan bagian dari fenomena alam yang di sebutkan Al Quran sebagai tanda-tanda eksintensi Tuhan yang menciptakannya. Tanda-tanda adanya pencipta di balik penciptaan tersebut hanya dapat di pahami oleh yang memikirkan serta menerima dan mengikuti kebenaran tersebut jika telah datang kepadanya (beriman).
Sebenarnya banyak ayat yang menyimbolkan tentang reproduksi yang terjadi pada hewan. Tapi disini pemakalah hanya menunjukkkan beberapa ayat. Kita ketahui bahwa baghal (red surah an nahl ayat 8) adalah peranakan dari kuda dan keledai. Wujud baghal adalah hewan yang bentuknya mirip dengan kuda dan keledai tetapi bukan kuda atau keledai. Penyebutan ketiga hewan teesebut memberiksn inspirasi adnya perkawinan antar hewan yang tak sejenis tetapi masih mempunyai hubungan kekerabatan seperti kuda dengan keledai, bebek dengan menthok, dan lain-lain. Hewan pun bereproduksi untuk melestariakn generasinya. Hewan juga mengalami masa-masa birahi seperti manusia. Pada dunia hewan juga terdapat persaingan yang terkadang menyebabkan terjadinya perkelahian untu mendapatkan “sang idaman hati”. Fenomena tersebut sungguh sangat menakjubkan, di situlah letak keagungan Tuhan, seluruh alam berada di bawah genggaman dan aturanNya.
E. Taksonomi hewan
Al Quran secara tersirat dan tersurat memberi isyarat-isyarat kepada manusia agar tumbuh kuroisitas dengan ciptaan Allah swt yang bermacam-macam. Selain itu Al Quran juga menyinggung aneka ragam jenis hewan. Pada surah an Nur ayat 45, menggambarkan tentang sebagian dari cara hewan berjalan. Ada yang berjalan dengan perutnya, ada yang berjalan dengan kaki. Dan diantara hewan yang berjalan diatas kakinya tersebut, ada yang berkaki dua dan ada yang berkaki empat. Sebagian hewan ada yang berkaki enam atau bahkan berkaki banyak sehingga di sebut hewan berkaki banyak.[16]
KESIMPULAN
Sekarang marilah kita pikirkan apa yang sejauh ini telah kita pelajari tentang binatang. Dari burung yang dapat terbang dengan kedua sayapnya dan onta yang dapat menempuh perjalanan 150 km perhari ditengah padang pasir dan terik matahari yang menyengat, akan tetapi onta tersebut dapat melewati kawasan yang dimana notabennya manusia sendiri tidak dapat melewatinya.
Sebagai contoh, saat kalian membaca makalah ini, kalian tahu bahwa kalian harus tetap membuka mata. Tapi patut kalian ketahui, bahwa sebenarnya, untuk dapat membaca, tidak cukup hanya dengan membuka mata. Mata kalian harus melakukan berbagai hal pada saat yang bersamaan. Kalian boleh menyamakannya dengan permainan di komputer, untuk memulai permainan, kalian hanya perlu menekan tombol ‘start’, yang merupakan satu perintah untuk memulai berbagai hal yang rumit di dalam komputer. Sementara itu, kalian tinggal duduk dengan nyaman di atas kursi dan menikmati permainan tersebut. Sebagaimana komputer yang tidak terbentuk secara tiba-tiba, begitu juga dengan berbagai bagian yang membentuk mata kita.[17]
Ketika orang yang bijak mau mempelajari lebih dalam tentang ciptaan Allah, keyakinannya pada-Nya akan semakin dalam dan ia akan semakin mengakui keagungan dan kekuasaan-Nya. Bahkan sebenarnya satu keistimewaan saja dari satu makhluk-Nya secara langsung mengingatkan kita kepada Allah. Tidak hanya makhluk hidup, tapi juga segala sesuatu yang ada di sekitar kita dan semua kejadian yang terjadi merupakan bukti nyata keberadaan Allah. Kalian harus bercermin dari hal-hal tersebut dan tidak pernah melupakan Keperkasaan Allah yang Tak Terbatas dan bahwa Dialah yang memberi segala kemurahan yang kita nikmati.
Tanamkan selalu di benak kalian bahwa semua keindahan yang kalian lihat di sekeliling kalian ada karena Allah menciptakannya.
Daftar Pustaka
·         Harun Yahya dalam file chm dalam pesona alam satwa.
·         M.Quraisy Syihab, Tafsir  Al- Misbah Jakarta: Lentera Hati.
·         Lihat maktabah syamilah dalam tafsir jalalen
·         Lihat maktabah syamilah dalam tafsir al muntakhob.
·         Lihat maktabah syamilah dalam tafsir ar razi
·         Lihat maktabah syamilah dalam tafsir al Maraghi
·         Prof. Dr. Yusuf Al Hajj Ahmad,  2008.  Kemukjizatan flora dan fauna dalam Al quran dan Sunnah, Yogykarta: Sajadah_press.
·         Imam Rosyidi. 2008,  Fenomena flora dan fauna dalam perspektif Al Quran. Malang: UIN Malang Press.
·         Mauruce Bucaille, 1990. Bibel Quran dan Sains Modern. Jakarta : Bulan Bimtamg
·         An nablusi, Al- I`jaz al Ilmi fi al kitab wa as sunnah)



[1]Lihat pendahuluan  dalam  buku Fenomena flora dan fauna dalam perspektif Al Quran.
[2]Lihat Harun Yahya dalam file chm dalam pesona alam satwa.
[3] Lihat maktabah syamilah Tafsir Al-Maraghi. Hal 119
[4] M.Quraisy Syihab, Tafsir  Al- Misbah juz 5 Jakarta: Lentera Hati, 2002, hlm:82-88
[5]. Lihat maktabah syamilah, tafsir jalalen
[6]Quraisy Syihab, Tafsir al Misbah (surah an Naml) Hal: 188
[7]Lihat maktabah syamilah dalam tafsir al muntakhob.
[8]Lihat maktabah syamilah dalam tafsir ar razi
[9]Quraisy Syihab, Tafsir al Misbah (surah an Naml) Hal: 275
[10] Prof. Dr. Yusuf Al Hajj Ahmad,  Kemukjizatan flora dan fauna dalam Al quran dan Sunnah. Hal: 185
[11]Imam Rosyidi, Fenomena flora dan fauna dalam perspektif Al Quran. Hal: 159-160
[12]Imam Rosyidi, Fenomena flora dan fauna dalam perspektif Al Quran. Hal: 166
[13] Mauruce Bucaille, Bibel Quran dan Sains Modern. Hal: 238-239  
[14]Ibid. hal: 39
[15] Prof. Dr. Yusuf Al Hajj Ahmad,  Kemukjizatan flora dan fauna dalam Al quran dan Sunnah. Hal: 216 (baca juga An nablusi, Al- I`jaz al Ilmi fi al kitab wa as sunnah)
[16]Imam Rosyidi, Fenomena  flora dan fauna dalam perspektif Al Quran. Hal: 183-184
[17]Lihat Harun Yahya dalam file chm dalam pesona alam satwa.
 
Sumber : http://maulana-qarina.blogspot.co.id/2013/10/hewan-dalam-al-quran.html

Rabu, 11 Mei 2016

Kimia dalam Perspektif Islam

Semua ilmu dalam kehidupan ini berasal dari Allah SWT baik ilmu duniawi maupun ilmu akhirat. Namun hakikatnya semua itu selaras berdampingan dan saling menguatkan satu sama lain. Bukti dari semua ini kita bisa melihatnya seperti proses penciptaan manusia yang merupakan kajian ilmu biologi dapat diperkuat dengan ilmu kimia dan bahkan ayat Al-Qur’an yang mendukung itu semua, sehingga menjadi sebuah teori yang nyata dan kongkrit.
            Begitu pula dengan hujan yang menjadi topik pembahasan kali ini. Hujan sebenarnya dikaji dalam ilmu biologi dan ilmu geografi, namun tidak ada salahnya jika kita mengkaji dari segi ilmu lain, misalnya dalam ilmu kimia. Semua yang ada di alam ini mengandung unsur-unsur kimianya. Begitu pula dengan air hujan, yang mana Al-Qur’an menjelaskanya kaya akan manfaat bagi kehidupan kita.
1.      Apa dan Dari Mana Sih Air Hujan Itu?
Air hujan merupakan proses alam yaitu berawal dari uap air dipermukaan tanah yang naik ke langit kemudian membentuk awan. Awan yang bertumpuk-tumpuk karena terbawa oleh angin membawa butiran-butiran air. Butiran-butiran air itu mengalami gravitasi dan jatuh ke bumi. Ketika air jatuh ke bumi sebagian menguap dan uap tersebut kembali lagi ke atas dan air yang turun ke bumi disebut air hujan.
2.      Apa Saja Sih Kandungan Air Hujan Itu?
Air hujan yang berasal dari langit sering membuat kita bertanya-tanya, apa aman sih air hujan untuk dikonsumsi? Untuk menjawab pertanyaan ini, maka perlu adanya pengetahuan atas kandungan air hujan itu sendiri apakah bermanfaat atau sebaliknya justru berbahaya bagi tubuh kita.
Kandungan air hujan berasal dari reaksi zat-zat yang ada di atmosfer dengan butiran air yang melewatinya. Selain itu air ini juga bereaksi dengan gas yang terdapat di atmosfer.
Zat-zat yang ikut bercampur dengan air hujan berupa zat padat yang mudah larut dan gas. Air hujan akan bereaksi dengan kondisi atmosfer yang dilaluinya sehingga sangat berpotensi mengandung zat-zat seperti karbon ( silika dan fly ash / dalam bentuk abu ringan), asam nitrat, asam sulfat dan zat lainnya yang berasal dari industri atau gunung berapi. Mengapa bisa ada silika dan fly ash? Umumnya keduanya adalah debu yang mengikat molekul-molekul air sehingga terjadi hujan. Ingat, hujan berasal dari proses presipitasi, bukan pengembunan. Presipitasi adalah proses pengikatan banyak molekul-molekul di permukaan molekul lain sehingga terbentuk molekul yang dipusatnya terdapat molekul asing. Fenomena ini juga sudah dipelajari dan terjadi di dalam freezer kita (jika punya freezer).
Jika hujan terjadi di lingkungan yang bersih, massa pengotor itu terlampau sedikit, biasanya tidak berpengaruh pada lingkungan. Akan menjadi masalah jika pengotor tertentu (seperti senyawa asam), terdapat dalam jumlah besar. Silika tidak pernah berada dalam jumlah besar di hujan, namun fly ash masih mungkin.
Untuk mengetahui hal tersebut, kita bisa mengukur pH air hujan yang jatuh di daerah kita. Jika pHnya rendah, maka banyak senyawa asam yang terlibat. Dan saat ini akan sulit sekali mencari air hujan dengan pH tepat 7.0, di mana itu adalah pH air murni. Fly ash sulit dideteksi karena mudah larut.
Kandungan utama dari air hujan yaitu terdapat 99,9 % H2O sisanya dari kondisi atmosfer yang dilalui. Jadi kandungan air hujan berbeda-beda di satu tempat dengan tempat yang lain. Di daerah laut terbuka sampai daerah yang dekat dengan pantai misalnya, air hujan akan mengandung garam, CO2 dan bersifat asam. Air hujan di darat pun punya kandungan yang berbeda. Kandungan garamnya jauh lebih sedikit. Apalagi jika di kota-kota yang padat penduduknya, seperti Jakarta, banyak berasal dari sisa-sisa polusi udara
Jadi, kandungan air hujan itu tergantung dari kondisi geologi, jumlah penduduk, dan aktifitas yang dilakukan oleh manusia di daerah itu.
3.      Apa Saja Manfaat Air Hujan dari Segi Kimia dan Islam
            Sudah kita ketahui bahwa di dalam air hujan terdapat senyawa-senyawa kimia yang ternyata memberikan manfaat bagi tubuh kita. Buktinya apa? Hal ini bisa kita buktikan dengan cara menampungnya. Cobalah tampung air hujan, diamkan sebentar. Kemudian masukan ke dalam plastik bening. Setelah itu, masukan ke dalam freezer kulkas.  Beberapa jam setelah beku, lihatlah hasilnya? Subhanallah, ada banyak kristal-kristal indah di dalamnya. Mengapa? Ini menandakan air hujan adalah air yang sehat. Air yang bersih. Air yang layak untuk dikonsumsi. Air yang penuh berkah. Allah tidak memberikan sesuatu kepada makhluk ciptaan-Nya melainkan penuh dengan manfaat di dalamnya dan memberikan tanda-tanda kekuasaan-Nya bagi orang-orang yang berpikir.
Sudah tidak bisa disangkal lagi bahwa air hujan sangat bermanfaat dan membawa berkah bagi kehidupan kita dan seluruh alam ini. Sebagaimana hal ini sudah dinas di dalam Al-Qur’an :

“Dialah yang meniupkan angin (sebagai) pembawa kabar gembira sebelum kedatangan rahmatNya (hujan), dan Kami turunkan air dari langit yang amar bersih, agar Kami menghidupkan dengan air itu negeri (tanah) yang mati, dan agar Kami memberi minum dengan air itu sebagian besar dari makluk Kami, binatang-binatang ternak dan manusia yang banyak. Dan sesungguhnya Kami telah mempergilirkan hujan itu di antara manusia supaya mereka mengambil pelajaran (daripadanya); maka kebanyakan manusia itu tidak mau kecuali mengingkari (nikmat)”(QS. Al-Furqaan : 48-50). Dari dalil tersebut sudah jelas, bahwa air hujan yang turun dari langit adalah merupakan sumber kehidupan dari Allah SWT.

“Dan Kami turunkan dari langit, air hujan yang diberkahi (mubaarak)…” [QS. Qaaf : 9].
Jadi ketika hujan turun, berarti membawa rahmat bagi semua makhluk khususnya buat manusia. Dan hujan diturunkan oleh Sang Pencipta, Allah SWT dalam keadaan bersih. Bukan saja bersih, air hujan yang turun membawa berkah yang banyak buat manusia. Air hujan itu membawa rahmat, bersih dan diberkahi. Karena itulah maka tak heran, air hujan bisa menjadi obat.
"(Ingatlah), ketika Allah membuat kamu mengantuk untuk memberi ketentraman dari-NYA, dan Allah menurunkan air (hujan) dari langit kepadamu untuk menyucikan kamu dengan (hujan) itu dan menghilangkan gangguan-gangguan setan dari dirimu dan untuk menguatkan hatimu serta memperteguh telapak kakimu (teguh pendirian)" (QS. Al-Anfal : 11)
Hujan yang hari-hari belakangan ini kita rasakan nikmatnya dari Allah Ta’ala, dan menjadi pembicaraan banyak orang, mengandung banyak manfaat untuk makhluk-makhluk Allah Ta’ala yang bermukim di bumi ini.
Pertama, Al Quran menarik perhatian kita dengan pernyataan air hujan adalah tawar. Allah Ta’ala berfirman:

“Wahai manusia apa pendapat kalian tentang air yang kalian minum? Apakah kalian yang menurunkannya dari awan ataukah Kami yang menurunkannya? Sekiranya Kami jadikan air hujan tersa asin lagi pahit, adakah kalian mampu mengubahnya menjadi air tawar? Mengapa kalian tidak mau mensyukuri nikmat Allah?” (Surat Al Waqi’ah (56): 68-70).

”… Wahai manusia Kami telah memberikan air minum yang tawar kepada kalian.” (Surat al-Mursalat (77) : 27)

“Dialah Tuhan yang menurunkan hujan dari langit bagi kalian. Diantara air hujan itu ada yang menjadi minuman, ada yang menumbuhkan pepohonan, dan ada pula yang menumbuhkan rerumputan yang menjadi makanan bagi ternak kalian.” (Surat An-Nahl (16): 10)
Seperti telah kita ketahui, air hujan berasal dari penguapan air dan 97% merupakan penguapan air laut yang asin. Namun, air hujan adalah tawar. Air hujan bersifat tawar karena adanya hukum fisika yang telah ditetapkan Allah. Berdasarkan hukum ini, dari mana pun asalnya penguapan air ini, baik dari laut yang asin, dari danau yang mengandung mineral, atau dari dalam lumpur, air yang menguap tidak pernah mengandung bahan lain. Air hujan akan jatuh ke tanah dalam keadaan murni dan bersih, sesuai dengan ketentuan Allah “…Kami turunkan air hujan yang bersih dari langit.” (Surat al-Furqan(25): 48)

“Di antara bukti kekuasaan-Nya adalah kalian dapat  melihat bumi ditundukkan untuk kepentingan manusia. Apabila turun air hujan ke bumi, maka tanah menjadi subur dan menumbuhkan tumbuh-tumbuhan yang segar. Tuhan Yang yang menyuburkan bumi yang gersang itulah Tuhan yang kelak menghidupkan kembali orang-orang yang telah mati. Sungguh Allah Mahakuasa berbuat apa saja.” (Surat Fushilat (41) : 39)
Kedua, Allah Ta’ala menurunkan hujan, lewat hujan itulah Allah memberi kehidupan bagi tanah yang mati. Di dalam Al Quran banyak ayat yang menyeru kepada kita agar memperhatikan bahwa hujan berguna untuk menghidupkan negeri (tanah) yang mati.
“…Kami turunkan air hujan yang bersih dari langit. Dengan air hujan itu Kami suburkan tanah-tanah yang tadinya tandus. Dengan air hujan itu kami beri minum makhluk-makhluk Kami hewan  ternak dan segenap manusia.” (Surat al-Furqan(25) : 48-49)
Selain tanah diberi air, yang merupakan kebutuhan mutlak bagi makhluk hidup, hujan juga berfungsi sebagai penyubur. Tetesan hujan, yang mencapai awan setelah sebelumnya menguap dari laut, mengandung zat-zat tertentu yang bisa memberi kesuburan pada tanah yang mati. Tetesan tegangan permukaan terbentuk di bagian atas permukaan laut, yang disebut lapisan mikro oleh ahli biologi. Pada lapisan yang lebih tipis dari 1/10 mm ini, terdapat sisa senyawa organik dari polusi yang disebabkan oleh ganggang mikroskopis dan zooplankton. Dalam sisa senyawa organik ini terkandung beberapa unsur yang sangat jarang ditemukan pada air laut seperti fosfor, magnesium, kalium, dan beberapa logam berat seperti tembaga, seng, kobal, dan timah. Tetesan berisi “pupuk” ini naik ke langit dengan bantuan angin dan setelah beberapa waktu akan jatuh ke bumi sebagai tetesan hujan. Dari air hujan inilah, benih dan tumbuhan di bumi memperoleh berbagai garam logam dan unsur-unsur lain yang penting bagi pertumbuhan mereka. Seperti yang tertera dalam ayat:
“Kami turunkan air hujan yang berbarakah, banyak manfaatnya dari langit kemudian dengan air hujan itu Kami tumbuhkan kebun-kebun dan biji-bijian yang dapat dipanen.” (QS. Qaf (50): 9)
Garam-garam mineral yang turun bersama hujan merupakan contoh dari pupuk konvensional (kalsium, magnesium, kalium, dan lain-lain) yang digunakan untuk meningkatkan kesuburan. Sementara itu, logam berat, yang terdapat dalam tipe aerosol ini, adalah unsur-unsur lain yang meningkatkan kesuburan pada masa perkembangan dan produksi tanaman.
Air hujan adalah sumber air yang sangat dibutuhkan oleh kehidupan di alam semesta ini. Kita sudah mengetahui iar hujan dapat bermanfaat bagi tubuh kita manusia. Namun tidak hanya itu, iar hujan pun dapat bermanfaat bagi keadaan alam yang lain. Apa saja manfaatnya?
1.      Manfaat air hujan untuk pertanian
Air hujan sangat dibutuhkan oleh setiap tanaman, kekurangan air hujan tanaman tidak dapat tumbuh dan produktif. Sehingga dapat menghambat aktivitas pertanian karena tidak dapat meningkatkan hasil panen. Atau bahkan daerah pertanian tadah hujan, mereka hanya bisa bercocok tanam ketika musim hujan datang, sebab pengairan pada lahan tadah hujan tersebut hanya mengandalkan air hujan saja.
2.      Manfaat air hujan untuk perikanan
Ikan air tawar adalah salah satu makanan yang penting bagi manusia sebagai pendamping makanan pokok seperti nasi. Nah, tanpa adanya air hujan maka tambak-tambak akan kering dan otomatis tidak bisa menaruh benih ikan. Tambak-tambak air tawar ini menerima pasokan air terbesar berasal dari air hujan sebanyak 80%.
3.      Manfaat Air hujan sebagai sumber energi pembangkit listrik
Walaupun pembangkit listrik tenaga air (PLTA) menggunakan air dari danau buatan, laut, sungai tetapi pemasok air terbesar itu adalah tetap air hujan. Sehingga air hujan sangat diperlukan untuk pembangkit listrik tenaga air.
4.      Manfaat air hujan untuk melestarikan lingkungan hidup
Lingkungan alam terdiri dari dataran, lautan dan juga pegunungan, nah untuk dapat melestarikan alam tersebut sangat membutuhkan air hujan. Seperti semua tumbuhan di bumi membutuhkan air hujan sehingga dapat tumbuh dengan baik sehingga dapat membantu tanah melakukan penyerapan air hujan lebih maksimal, jika pohon-pohon dapat tumbuh dengan subur dan penyerapan tanah juga baik maka akan memperkecil resiko terjadinya longsor.
5.      Manfaat air hujan hujan untuk menghidari erosi tanah
Konstruksi tanah sangat membutuhkan serapan air hujan yang maksimal agar tanah menjadi kuat dan tidak mudah terjadi erosi. Penyerapan air hujan dapat maksimal apabila ada bantuan pepohonan.
6.      Manfaat air hujan untuk kecantikan
Air hujan yang sudah turun lama akan mengandung zat-zat yang baik bagi kesehatan rambut kita seperti beragam mineral, kandungan garam dan ph netral yang bermanfaat untuk menjaga kesehatan akar rambut dan tidak mudah rontoh.
7.      Manfaat air hujan membersihkan udara
Air hujan yang turun pertama kali di musim penghujan biasanya mengandung banyak kotoran dan polusi. Tetapi air hujan yang sudah sering turun dapat membantu manusia untuk menghirup udara segar setelah hujan turun.
            Itulah segelintir dari manfaat iar hujan bagi kehidupan ini. Jika kita mau meneliti lebih dalam lagi, tentu saja bukan hanya ini yang dapat kita rasakan manfaatnya, melainkan jauh lebih banyak lagi yang dapat kita ambil. Allah Maha Besar atas segala karunia-Nya yang telah Dia berikan kepada kita, makhluk ciptaan-Nya. Tentu bukan hanya air hujan saja yang penuh akan manfaat, namun semua ciptaan Allah pasti mengandung manfaat di dalamnya, jika kita mau untuk berpikir dan melakukan berbagai penelitian. Sudah sepatutnya kita sebagai hamba-Nya untuk selalu bersyukur atas segala karunia yang Dia berikan kepada kita. Wallahu ‘alam ^_^
Sumber :
02 april 2015 11:05

Selasa, 10 Mei 2016

Fisika dalam Perspektif Islam

Al-qur’an adalah wahyu yang diturunkan Allah melalui perantara malaikat Jibril  kepada nabi Muhammad SAW. Di dalam al-qur’an terdapat petunjuk bagi kehidupan umat manusia. Al-Quran merupakan sumber ilmu pengetahuan yang didalamnya terdapat ayat-ayat yang mengisyaratkan tentang perintah dan manfaat  terhadap pengembangan ilmu dan teknologi. Dalam hal ini manusia dituntut untuk mempelajari, merenungkan, memikirkan, menelaah, dan menghayati ayat-ayat Allah yang tersirat dan tersurat  dalam Al-Quran. Di dalam Al-Quran terdapat ayat-ayat Allah SWT yang menjelaskan objek kajian ilmu, yaitu alam, manusia, dan kitab suci. Alam sebagai objek kajian ilmu selanjutnya melahirkan disiplin ilmu kimia, fisika, matematika, biologi, antropologi fisik, astronomi, kedokteran, farmasi, dan lain-lain.

Di sekolah kita sudah tidak asing lagi dengan ilmu fisika. Dimana ilmu tersebut merupakan ilmu yang mempelajari gejala alam yang tidak hidup atau materi dalam lingkup ruang dan waktu. Ternyata dari sekian banyak ayat dalam al-qur’an selain ayat-ayat yang menerangkan tentang agama, akhlaq, dan lain sebagainya juga terdapat ayat-ayat yang mengajarkan kita tentang ilmu fisika atau bisa kita sebut sebagai ayat fisika. Berikut ini beberapa ayat yang menjelaskan tentang ilmu fisika:

Gas Nebula

            Tata surya dan bintang-bintang dulunya adalah gas nebula yang terpilin dan berotasi dan akhirnya terjadilah alam yang sekarang ini. James Hanz berkata Sebenarnya materi alam semesta berasal dari gas dijelaskan dalam QS. Al-Fushilat: 11
“Kemudian Dia Menuju ke langit dan (langit) itu masih berupa asap, lalu Dia Berfirman kepadanya dan kepada bumi, “Datanglah kamu berdua menurut perintah-Ku dengan patuh atau terpaksa.” Keduanya menjawab, “Kami datang dengan patuh”.”

Space Shuttle

Space Shuttle adalah pesawat luar angkasa milik Amerika Serikat yang digunakan dalam misi penerbangan luar angkasa berawak. Space shuttle disebut juga pesawat ulang-alik.

Bila pesawat terbang bisa mengunakan angin untuk terbang tetapi bila pesawat luar angkasa harus menggunakan pendorong roket untuk memberi gaya tolak di luar angkasa karena di sana hampa udara. Maka dalam Al Qur’an pun diketahui bahwa manusia akan mampu menembus angkasa dan ke luar angkasa. Al Qur’an juga meramalkan kemampuan manusia menembus bumi (dasar laut goa dst)

Q.S Ar-Rohman: 33
“Wahai golongan jin dan manusia! Jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka tembuslah. Kamu tidak akan mampu menembusnya kecuali dengan kekuatan (dari Allah).”
Q.S Saba: 2
            “Dia Mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi, apa yang keluar darinya, apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepadanya. Dan Dia-lah Yang Maha Penyayang, Maha Pengampun.”

Relatifitas Waktu.

            Teori Relativitas Einstein ada dua macam yaitu teori relativitas khusus dan teori relativitas umum. Berdasarkan teori relativitas khusus menunjukan bahwa kecepatan membuat waktu bersifat relative. Bila suatu benda bergerak dengan kecepatan mendekati kecepatan cahaya maka waktu akan mengalami pemoloran atau melambatnya waktu, fenomena ini disebut dengan delatasi waktu, sedangkan teori relativitas umum mempostulatkan bahwa gravitasi membuat waktu menjadi relative. Waktu akan berjalan lebih lambat di daerah yang gravitasinya lebih besar. Inti dari kedua teori ini adalah waktu yang bersifat relatif.

            Seperti dalam ayat al-qur’an yang menjelaskan waktu disisi Allah berbeda dengan waktu disisi manusia. Seperti pada ayat berikut ini:

Q.S Al-Ma’arij: 4
 “Para malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan, dalam sehari setara dengan lima puluh ribu tahun.Para malaikat dan Jibril jika menghadap Tuhan memakan waktu satu hari. Apabila dilakukan oleh manusia, memakan waktu lima puluh ribu tahun.“
Q.S Al Hajj: 47
            “Dan mereka meminta kepadamu (Muhammad) agar azab itu disegerakan, padahal Allah tidak akan menyalahi janji-Nya. Dan sesungguhnya sehari di sisi Tuhan-mu adalah seperti seribu tahun menurut perhitunganmu.”
Q.S An-Najam: 57-58
            “Yang dekat (hari Kiamat) telah makin mendekat(57) Tidak ada yang akan dapat mengungkapkan (terjadinya hari itu) selain Allah(58).”
Jadi jika dalam Quran, Alloh mengatakan kiamat sudah dekat. Maka kedekatan itu adalah relatif. Nabi hidup 1500 tahun yang lalu, adalah waktu yang pendek untuk ukuran usia alam semesta. Dalam ilmu fisika para ahli mengukur usia alam semesta adalah 12 milliar tahun. Jadi Yaum dalam bahasa arab bukan hanya berati hari tetapi juga jaman atau masa. Yang kadarnya berubah-ubah tergantung siapa yang merasakannya. Seperti kecepatan malaikat memang berbeda satu sama lain. Dalam Qur’an kecepatan dikiaskan dengan sayap.

Q.S Fathir: 1
“Segala puji bagi Allah Pencipta langit dan bumi, yang Menjadikan malaikat sebagai utusan-utusan (untuk mengurus berbagai macam urusan) yang mempunyai sayap, masing-masing (ada yang) dua, tiga dan empat. Allah Menambahkan pada ciptaan-Nya apa yang Dia Kehendaki. Sungguh, Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” 
            Dan masih banyak lagi teori-teori fisika yang ada dalam ayat-ayat al-qur’an. Seperti teori tentang teori terciptanya alam semesta, rotasi dan revolusi benda-benda yang ada di luar angkasa, perubahan musim, keadaan bumi dan alam semesta, garis edar benda-benda langit dan lain sebagainya.

Senin, 09 Mei 2016

Biologi dalam Perspektif Islam

Fungsi Otak Manusia
Ketahuilah, sungguh jika dia tidak berhenti (berbuat demikian) niscaya kami tarik ubun-ubunnya, (yaitu) ubun-ubun orang yang mendustakan lagi durhaka[1].
Mengapa Al-Qur'an menjelaskan tentang bagian depan kepala sebagai dusta dan dosa? Adakah hubungan antara bagian depan kepalan dengan dusta dan dosa? Pada bagian depan kepala kita terdapat prefrontal area pada cerebru[2]. Menurut para Fisiologi[3], dalam sebuah buku yang berjudul Essentials of Anatomy dan Physiology menjelaskan mengenai fungsi area ini; Motivasi dan wawasan untuk merencanakan dan memulai gerakan terjadi pada anterior pada Frontal lobes, yakni prefrontal area. Inilah daerah cortex asosiasi, buku tersebut juga menjelaskan, dalam kaitannya dengan kegiatan dalam motivasi, prefrontal area juga diperkirakan sebagai fungsional agresi.

Dengan demikian, area cerebrum ini bertanggung jawab atas kegiatan perencanaan, motivasi dan memulai perbuatan baik dan berdosa, dan juga bertanggung jawab dalam menceritakan kebohongan dan berbicara benar[4]. Dapat dipahami bahwa bagian depan kepala sebagai dusta dan dosa ketika seseorang melakukan dosa, sebagaimana yang dinyatakan didalam Al-Qur'an, "(yaitu) ubun-ubun orang yang mendustakan lagi durhaka." Para ilmuwan baru menemukan fungsi-fungsi prefrontal area pada abad modren. Sedangkan Al-Qur'an 14 abad yang lalu telah memberitakannya.

Emrio Manusia

Dan Sesungguhnya kami Telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu kami bungkus dengan daging. Kemudian kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta yang paling baik[5].

Surah Al-Mu'minuun ayat 12-14 di atas menjelaskan bagaimana proses atau tahap-tahap pertumbuhan embrio manusia, dan tahapan embrio manusia yang digambarkan oleh ayat di atas sangat sesuai dengan embriologi modern. Ahli embriologi terkemukan Prof. Keith L. Moore[6], dalam bukunya mengenai embriologi modern dan dalam sebuah presentasinya di Toronto, mengenai embrio manusia. Penjelasannya itu sedikit menimbulkan kegemparan di kanada, ia menyebutkan bahwa beberapa tahap embrionik pada manusia sebagaimana yang dijelaskan dalam Al-Qur'an. Apa yang dia kemukkan itu dimuat di halaman depan, dibeberapa surat kabar, Kanada.

Setelah persentasinya Prof. Keith L. Moore, ditanya oleh seorang reporter, " Bagaimanakah anda menjelaskan informasi dalam Al-Qur'an ini?" Prof. Kieth L. Moore menjawab, "Itu semua hanya dapat dijelaskan oleh wahyu Illahi[7]."

Jenis Kelamin

Dan bahwasanya dialah yang menciptakan berpasang-pasangan pria dan wanita. Dari air mani, apabila dipancarkan[8].
Fakta bahwa spermalah yang menentukan jenis kelamin anak baru-baru ini saja diketahui melalui ilmu pengetahuan modern seperti genitika dan biologi molukuler. Implikasi dalam Al-Qur'an mengenai penentuan jenis sangat menakjubkan, karena ia menunjukkan bahwa air manilah yang menentukan jenis kelamin anak. Dua dari empat puluh enam Kromosom yang menentukan jenis kelamin anak[9].

Kromosom pria dilambangkan sebagai XY dan wanita XX. Sewaktu ovulasi kromosom wanita terbelah, masing-masing menjadi satu kromosom X. Dipihak lain, sebagian sperma membawa kromosom X, sedangkan sebagian lainnya membawa kromosom Y. Jika kromosom X sperma bergabung dengan kromosom X sel telur, maka jenis kelamin anak yang lahir adalah wanita, dan jika yang bergabung adalah kromosom Y pria dan kromosom X wanita, maka jenis kelamin keterunan mereka adalah laki-laki[10].

Dengan kata lain, jenis kelamin bayi ditentukan oleh jenis kromosom mana dari pria yang bergabung dengan sel telur wanita. Informasi ini, yang telah disiratkan Al-Qur'an lebih dari 1400 tahun lalu, dan diketahui baru-baru ini. Selama berabad-abad, wanita disalahkan kerena dianggap penentu jenis kelamin anak yang dilahirkannya. Penemuan ilmu pengetahuan modern telah menjelaskan dan membenarkan kejadian menakjubkan ini (Al-Qur'an), sembari mematahkan keyakinan yang menimpakan kesalahan pada wanita.

Manfaat Air Susu Ibu (ASI)

Dan kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapanya; ibunya Telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. bersyukurlah kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakmu, Hanya kepada-Kulah kembalimu[11].
Air susu ibu merupakan makanan sempurna yang mengadung berbagai zat makanan yang sangat diperlukan oleh bayi, sehingga metabolisme tubuhnya bisa berjalan lancar dan perkembangan badannya berlangsung dengan baik[12]. Susu buatan yang tersebar di berbagai tokoh, para ilmuwan berdasarkan penelitian yang mereka lakukan menegaskan, bahwa susu buatan mustahil dapat mengantikan fungsi susu murni (ASI)[13]. Susu buatan juga tidak aman dan memiliki kemungkinan untuk mengandung bahan-bahan yang dapat mengakibatkan kerusakan sel tubuh[14].

Berdasarkan beberapa penelitian, menyimpulkan bahwa pemberian murni (ASI) kepada bayi, merupakan dasar bagi perkembangan bayi, sehingga mereka dapat tumbuh secara alami. Adapun masa ideal untk menyusui mereka adalah dua tahun atau kurang sedikit, dimana masa menyusui ini, tidak boleh dipercepat atau dikurangi, karena bisa menggangu pertumbuhan sel[15].

Al-Qur'an telah menyebutkan masa ideal bagi penyusuan bayi "Dan menyapihnya dalam dua tahun" (Luqman: 14). Pernyataan Al-Qur'an ini sangat sesuai dengan penelitian modern yang dilakukan oleh para ilmuwan.

Sidik Jari

Apakah manusia mengira, bahwa kami tidak akan mengumpulkan (kembali) tulang belulangnya?Bukan demikian, Sebenarnya kami Kuasa menyusun (kembali) jari jemarinya dengan sempurna[16].
Sidik jari tidak banyak arti untuk manusia sebelum seseorang berkebangsaan inggris bernama Genn Ginsen (1856), menemukan bahwa pola garis di ujung jari manusia adalah sesuatu yang unik bagi individu[17]. Pada tahun 1880[18], sidik jari dijadikan metode ilmiah untuk melakukan identitas setelah diadaakannya penelitian oleh Sir Francis Golt, tak seorang pun di dunia ini yang memiliki pola sidik jari yang sama, bahkan pada kembar identik. Kartu identitas ini tidak dapat dipalsukan.

Terungkapnya fakta bahwa pola garis diujung jari adalah semacam kartu identitas membantu polisi untuk menemukan pelaku kejahatan[19]. Pada saat Al-Qur'an diturunkan 1400 tahun lalu, tidak seorang pun yang menganggap istimewa ujung jari (sidik jari), tetapi Allah lah yang menekankan pentingnya sidik jari tersebut dalam surah Luqman ayat 14.

FootNote:

[1].Al-Alaq: 15-16
[2]. MD. Anisur Rahman, op. cit., h. 177.
[3].Lihat, Ibid., h. 177-178
[4].Ibid
[5].Al-Mu'minuun ayat 12-14
[6]. MD. Anisur Rahman, op. cit., h. 221-222.
[7].Ibid., h 123.
[8].Al- Najm ayat 45-46
[9]. Caner Taslaman, op. cit., h.195.
[10].Ibid., h. 195-196
[11].Luqman ayat 14
[12]. Dr. Abdul Basith Al-Jamal dan Dr. Daliya Shiddiq Al-Jamal, op. cit., h. 107.
[13].Ibid
[14].Ibid
[15].lihat, Ibid., h. 109.
[16].Al-Qiyaamah ayat 3-4
[17]. Caner Taslaman, op. cit., h. 210.
[18].Lihat, MD. Anisur Rahman, op. cit., h. 226.
[19]. Caner Taslaman, loc. cit.

Minggu, 01 Mei 2016

Bukan Hanya Manusia,Beberapa hewan ini juga berpuasa

     Hewan ternyata juga melakukan puasa. Yup, ternyata puasa bukan hanya monopoli pekerjaan manusia saja, beberapa hewan pun melakukan ritual puasa. Sejumlah hewan melakukan praktik puasa secara berkala tentunya dengan sebab dan tujuan yang berbeda dengan puasa yang dilakukan manusia.

      Hewan-hewan yang ikut melakukan praktek puasa layaknya manusia itu antara lain ayam betina, ular, kukang, dan ulat. Ada baiknya kita simak satu persatu puasa yang dilakukan para binatang ini. Mungkin bisa menjadi bahan renungan dan kita petik pelajaran dari perilaku puasa para hewan ini.
Puasa Unta. Hewan unta mampu melakukan puasa tanpa makan dan minum hingga berhari-hari. Sehingga unta mampu berjalan beratus-ratus kilometer di daerah padang pasir tanpa makanan dan minuman. Hal yang sama juga dilakukan oleh beberapa jenisberuang yang mampu berpuasa selama musim dingin. Kondisi alam yang ekstrimlah yang kemudian memaksa unta dan beruang untuk berpuasa.
Puasa Kukang. Kukang atau malu-malu yang merupakan anggota genus Nycticebus, merupakan hewan pemalas. Saking malasnya, aktifitas keseharian kukang hanya diisi dengan tidur dengan cara bergelung atau menggantung di pohon. Setelah lapar, barulah kukang bangun mencari makan. Setelah makan, kukang akan tidur (puasa) lagi. Bisa dikatakan, puasa yang dilakukan kukang lebih disebabkan oleh sifatnya yang pemalas.
Puasa Ular. Ular melakukan praktik puasa secara berkala. Hewan melata ini dalam waktu tertentu akan melakukan puasa setelah terlebih dahulu mempersiapkan cadangan makanan di perutnya. Puasa yang dilakukan ular bertujuan untuk meningkatkan suhu badan hingga beberapa derajat di atas normal guna melakukan pergantian kulit baru. Hal yang sama juga dilakukan oleh biawak. Jadi tujuan puasa yang dilakukan ular adalah untuk melakukan pergantian kulit.
Puasa Ayam Betina. Ayam betina melakukan praktik puasa setiap kali mengerami telurnya. Dengan berpuasa suhu badan ayam (Gallus sp.) akan meningkat sehingga telur yang dierami dapat menetas menjadi anak-anak ayam.
Ayam betina berpuasa selama mengerami telur
Ayam betina berpuasa selama mengerami telur
Puasa Ulat dan Kupu-kupu. Ulat adalah hewan yang mengalami metamorfosis sempurna. Salah satu fase dalam metamorfosis ulat adalah menjadi kepompong (pupa atau chrysalis). Selama menjadi kepompong inilah sang ulat berpuasa agar tubuh ulat dapat dihancurkan dan menyisakan beberapa sel saja yang kemudian tumbuh menjadi kupu-kupu. Proses ini juga terjadi pada beberapa serangga lain. Dengan ritual puasa sang ulat yang menjijikkan dan perusak tanaman berubah menjadi kupu-kupu yang anggun dan bermanfaat bagi penyerbukan bunga.
Bagaimana Dengan Puasa Kita, Manusia?. Nah, itu yang menjadi pertanyaan. Apakah puasa yang kita lakukan seperti unta yang melakukan puasa lantaran terpaksa oleh keadaan. Ataukah seperti puasa kukang yang menggunakannya sebagai ajang bermalas-malasan.
Ataukah kita berpuasa seperti ular yang sekedar ingin mempercantik dan memperindah kulit (tubuh) saja, atau seperti ayam betina yang berpuasa untuk merubah telur menjadi anaknya sedangkan dirinya tetap menjadi ayam seperti sedia kala.
Atau puasa yang kita lakukan seperti puasa yang dilakukan oleh ulat. Berpuasa untuk merubah diri dari ulat yang buruk rupa dan perangai menjadi kupu-kupu yang cantik tubuh dan tingkah laku.
Tentunya pertanyaan itu tidak bisa kita tanyakan pada unta, beruang, kukang, ular, ayam ataupun ulat dan kupu-kupu. Karena jawabannya telah ada di dalam lubuk hati kita masing-masing.
Oleh akrena itu, tidakkah kita menginginkan ibadah Ramadhan kita ( khususnya puasa) berhasil mengubah pribadi kita? tidak malukah kita jika selepas Ramadhan alih-alih peningkatan amal, justru kemerosotan ibadah kembali kita ulangi? Maka, tidak ada pilihan lain bagi kita, selain memanfaatkan dengan sungguh-sungguh momen Ramadhan yang sebentar lagi akan datang. Baik secara kualitas maupun kuantitas. kobarkan semangat optimal untuk beramal dan beribadah di bulan suci. Tidak ada jaminan tahun depan Ramadhan bisa kita temui lagi. Semoga ridho Allah selalu menyertai. Amiin.

Ayat Al Quran Tentang Pelestarian Satwa dan Keseimbangan Ekosistem

Al Quran ternyata telah memuat berbagai ayat tentang pentingnya pelestarian satwa (hewan) dan menjaga keseimbangan ekosistem di bumi. Ayat-ayat yang memuat firman Allah SWT tersebut menegaskan peran penting manusia, sebagai khalifah di bumi, untuk turut serta menyelamatkan dan melestarikan satwa-satwa (termasuk satwa langka) agar tidak punah.
Dalam beberapa ayat tersebut, jelas menunjukkan pentingnya melakukan perlindungan dan pelestarian terhadap hewan, baik hewan peliharaan ataupun hewan liar (satwa liar). Pun dalam menjaga keseimbangan ekosistem di bumi. Beberapa ayat Al Quran tersebut diantaranya adalah sebagai mana di bawah ini.

Firman Allah SWT dalam Al Quran yang memuat perintah kepada manusia untuk selalu berbuat kebajikan (ihsan) antarsesama makhluk hidup, termasuk terhadap hewan, antara lain :

Dalam Al Quran Surat Al-An’am [6], ayat 38, Allah berfirman :
وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الأرْضِ وَلا طَائِرٍ يَطِيرُ بِجَنَاحَيْهِ إِلا أُمَمٌ أَمْثَالُكُمْ مَا فَرَّطْنَا فِي الْكِتَابِ مِنْ شَيْءٍ ثُمَّ إِلَى رَبِّهِمْ يُحْشَرُونَ
Artinya : Dan tiadalah binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan umat (juga) seperti kamu. Tiadalah Kami alpakan sesuatu pun dalam Al-Kitab, kemudian kepada Tuhanlah mereka dihimpunkan.
Dalam Al Quran Surat Al-Qashash [28], ayat 77, Allah berfirman :
وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الآخِرَةَ وَلا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ وَلا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الأرْضِ إِنَّ اللَّهَ لا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ
Artinya : Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.
Firman Allah SWT dalam Al Quran yang menyebutkan Allah telah menjadikan dan menundukkan ciptaan-Nya untuk kepentingan manusia, antara lain:
Dalam Al Quran Surat Lukman [31], ayat 20, Allah SWT berfirman :
أَلَمْ تَرَوْا أَنَّ اللَّهَ سَخَّرَ لَكُمْ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأرْضِ وَأَسْبَغَ عَلَيْكُمْ نِعَمَهُ ظَاهِرَةً وَبَاطِنَةً وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يُجَادِلُ فِي اللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَلا هُدًى وَلا كِتَابٍ مُنِيرٍ
Artinya : Tidakkah kamu perhatikan Sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk (kepentingan)mu apa yang di langit dan apa yang di bumi dan menyempurnakan untukmu nikmat-Nya lahir dan batin. dan di antara manusia ada yang membantah tentang (keesaan) Allah tanpa ilmu pengetahuan atau petunjuk dan tanpa kitab yang memberi penerangan.
Dalam Al Quran Surat Al Baqarah [2], ayat 29, Allah SWT berfirman :
هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُمْ مَا فِي الأرْضِ جَمِيعًا ثُمَّ اسْتَوَى إِلَى السَّمَاءِ فَسَوَّاهُنَّ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
Artinya : Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. dan Dia Maha mengetahui segala sesuatu.
Firman Allah SWT dalam Al Quran yang menyatakan tugas manusia sebagai khalifah di bumi untuk memakmurkan dan menjaga keseimbangan ekosistem, antara lain :
Dalam Al Quran Surat Al Baqarah [2], ayat 30, Allah SWT berfirman :
وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الأرْضِ خَلِيفَةً قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لا تَعْلَمُونَ
Artinya : Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat: “Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, Padahal Kami Senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”

Firman Allah SWT dalam Al Quran yang menegaskan seluruh makhluk yang diciptakan oleh Allah (termasuk satwa) tidak ada yang sia-sia dan memiliki manfaat, antara lain :
Dalam Al Quran Surat Ali Imran [3], ayat 191, Allah SWT berfirman :
الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
Artinya : (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan Kami, Tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha suci Engkau, Maka peliharalah Kami dari siksa neraka.
Firman Allah SWT dalam Al Quran Al Karim yang melarang manusia untuk berbuat kerusakan di bumi, termasuk di dalamnya terhadap satwa langka, antara lain :
Dalam Al Quran Surat Al A’raf [7], ayat 56, Allah SWT berfirman :
وَلا تُفْسِدُوا فِي الأرْضِ بَعْدَ إِصْلاحِهَا وَادْعُوهُ خَوْفًا وَطَمَعًا إِنَّ رَحْمَةَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِنَ الْمُحْسِنِينَ
Artinya : Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah Amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.

Itulah beberapa ayat dalam Al Quran yang memuat tentang perlindungan  dan pelestarian hewan (satwa) termasuk dalam melestarikan ekosistem di bumi. Semoga mampu menyadarkan kita, utama muslim Indonesia, untuk senantiasa mencintai dan melestarikan lingkungan hidup beserta satwa dan ekosistemnya. Amin.