bertaubalah sebelum terlambat

Manusia adalah makhluk lemah. Tak kuasa untuk bersih dari dosa dan maksiat. Ditambah dengan godaan pasukan iblis yang berusaha selalu menyeretnya ke dunia hitam. Di saat yang sama, Allah membuka pintu taubat yang seluas-luasnya, agar mereka tidak putus asa dari rahmat Sang Pencipta. Tinggal satu yang perlu digugah: Kapan saatnya kita mau bertaubat?

Dari Pemuda untuk Kejayaan Peradaban

Kekuatan dan kapasitas pemuda dalam menuntut ilmu dijalan Alllah SWT

Belajar dari masa lalu

Kemarin adalah masa lalu yang bisa dijadikan pelajaran untuk menjalani hidup di masa sekarang demi meraih sebuah harapan di masa depan yang lebih baik dari masa lalu dan masa sekarang

Hargai waktu, Karena masa lalu tak dapat diubah

Menjadi apa anda di 5 tahun mendatang adalah cerminan sikap dan aktivitas yang anda lakukan sekarang itu tercemin dari bagaimana anda menggunakan waktu anda. Gunakan waktu dengan bijak karena waktu terus berjalan tanpa memihak kepada siapapun. Waktu sangatlah berharga dan terbatas dan sudah seharusnya di gunakan dengan sebaik-baiknya.

Ulul Albab (Generasi Muslim Cerdas Berkualitas)

Cerdas dalam kaca mata kita tentu ditujukan untuk mereka yang pandai mengurai dan memecahkan masalah dalam ilmu pengetahuan tertentu, atau mereka yang mampu menyelesaikan satu problem tertentu. Tapi kita tak pernah siap mendalami apa konsep manusia cerdas dengan kacamata wahyu, yaitu pandangan Alloh subhaanahu wata’ala .

Sabtu, 16 April 2016

Kaidah Menuntut Ilmu

Penting bagi setiap insan untuk menuntut ilmu. Karena dengan memiliki ilmu banyak hal yang bisa kita dapati. Sebagaimana sebuah pepatah Arab.

مَنْ اَرَدَ الّدُ نْيَا فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ وَمَنْ اَرَدَ اْلاَخِرَةِ فَعَلَيْهِ بِالْعِلمِ وَمَنْ اَرَدَ هُمَا مَعًا فَعَلَيهِ بِالْعِلْمِ

Siapa yang ingin dunia (hidup di dunia dengan baik), hendaklah ia berilmu, siapa yang ingin akhirat (hidup di akhirat nanti dengan senang) hendaklah ia berilmu, siapa yang ingin keduanya, hendaklah berilmu
Dalam setiap kesempatan kita akan dituntut untuk memiliki pengetahuan. Baik pengetahuan secara sederhana hingga pengetahuan paling sulit di dunia.
Contoh saja untuk kehidupan sehari-hari. Kita hidup butuh makan, kalau kita tidak tahu bagaimana ilmunya memasak apa kita bisa makan? Lalu dari mana kita bisa mendapat bahannya. Kita perlu uang.
Sedang uang bagaimana kita mendapatkannya? Tentu kita harus kerja. Ketika kita ingin bekerja maka otomatis kita perlu ilmu untuk pilihan kerja yang kita tempati. Kesimpulannya di manapun dan apapun yang kita lakukan kita harus tahu ilmunya dulu.
Sabda Nabi saw.

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَي كُلِّ مُسْلِمٍ

Menuntut ilmu itu wajib atas tiap-tiap muslim. (HR Bukhari dan Muslim)
Di sini akan dipaparkan sedikit tentang pengertian ilmu dan pentingnya menunutut ilmu untuk muhasabah diri.

A. Pengertian Ilmu

Ilmu sudah menjadi kata bahasa Indonesia sehari- hari, menurut kamus besar bahasa Indonesian ilmu adalah pengetahuan atau kepandaian baik yang termasuk jenis kebatinan maupun yang berkenaan dengan keadaan alam dan sebagainya.
Kata ilmu diambil dari bahasa Arab, berasal dari kata jadian ‘alima- ya’lamu- ‘ilman(عَلِمَ يَعْلَمُ عِلْماً )‘Alima sebagai kata kerja yang berarti mengetahui. Quraish shihab menjelaskan, kata ilmu dengan berbagai bentuknya dalam Alquran terulang 854 kali.
Selanjutnya menurut Quraish shihab makna ilmu dari segi bahasa berarti “kejelasan” dari semua kata bentukan dari akar katanya mempunyai makna kejelsan. Ilmu adalah pengetahuan yang jelas tetntang segala sesuatu, sekalipun demikian kata ilmu berbeda dengan ‘arafa (mengetahui )‘arif (yang mengetahui), dan ma’rifah (pengetahuan). Dalam Alquran Allah SWT tidak dinamakan ‘Arif, tetapi ‘Alim yang berkata kerja ya’lamu (dia mengetahui) dan biasanya Quran menggunakan kata terserebut untuk Allah SWT yang mengetahui sesuatu yang gaib, tersembunyi dan rahasia. Jadi ilmu secara lughawi adalah mengetahui sesuatu secara dalam , hingga menjadi jelas.
Dalam pandangan Al-Quran, ilmu adalah keistimewaan yang menjadikan manusia unggul terhadap makhluk- makhluk lain guna menjalankan fungsi kekhalifahan. Hal ini tercermin dari kisah kejadian manusia pertama dalam Al Quran surat Al-Baqarah ayat 31-32 :
Dan Dia mengajarkan kepada Adam Nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada Para Malaikat lalu berfirman: “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!”
mereka menjawab: “Maha suci Engkau, tidak ada yang Kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; Sesungguhnya Engkaulah yang Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al-Baqarah : 31-32)
Menurut Al-Quran, manusia memiliki potensi untuk meraih ilmu dan mengembangkannya dengan seizin Allah. Karena itu bertebaran ayat yang memerintahkan manusia menempuh berbagai cara untuk mewujudkan betapa tinggi kedudukan orang yang berpengetahuan. Sebagai mana firman Allah dalam surat Al-Mujadalah ayat 11:
Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majlis”, Maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu”, Maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. Al-Mujadalah : 11)
Menurut pandangan Quran seperti yang diisyaratkan oleh wahyu pertama ilmu terdiri dari dua macam. Pertama , ilmu yang diperoleh tanpa upaya manusia, dinamai ilmu laduni, seperti diinformasikan antara lain dalam Quran surat Al kahfi ayat 65:
Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami. (QS. Al-Kahfi : 65)
Kedua , ilmu yang diperoleh karena usaha manusia dinamai ilmu kasbi, ayat- ayat ilmu kasbi jauh lebih banyak dari pada yang berbicara tentang ilmu laduni. Pembagian ini menurut shihab disebabkan karena dalam pandangan Quran terdapat hal- hal yang ada tetapi tidak dapat diketahui melalui upaya manusia sendiri.
Dengan demikian objek ilmu meliputi materi dan non materi, fenomena dan non fenomena, bahkan ada wujud yang jangankan dilihat, diketahui oleh manusia pun tidak.

B. Pentingnya Menuntut Ilmu (Belajar)

Nabi Saw bersabda kepada Abu Dzar Al Ghifari

 لأَنْ تَغْدُوَ فَتَعَلَّمَ آيَةً مِنْ كِتَابِ اللَّهِ خَيْرٌ لَكَ مِنْ أَنْ تُصَلِّىَ مِائَةَ رَكْعَةٍ

Bahwa sesungguhnya engkau pergi untuk mempelajari suatu ayat dari kitab Allah adalah lebih baik daripada engkau melakukan shalat seratus raka’at. (HR. Ibnu Majah)
Imam Al-Ghazali juga memandang bahwa belajar atau menuntut ilmu adalah sangat penting serta menilai sebagai kegiatan yang terpuji. Untuk menerangkan keutamaan belajar tersebut Imam Al-Ghazali mengutip beberapa ayat Al-Qur’an, hadits Nabi serta atsar. Di antara ayat , hadits dan atsar yang dikutip tersebut, yaitu :
Allah berfirman :
Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya. (QS. At-Taubah : 122)
Nabi saw. bersabda: “Barang siapa menjalin suatu jalan untuk menuntut ilmu, maka dianugerahi Allah kepadanya jalan ke surga.” (HR. Muslim)
Nabi saw. bersabda pula: “Sesungguhnya malaikat itu membentangkan sayapnya kepada penuntut ilmu tanda rela dengan usahanya itu” (HR. Ahmad, Ibnu Hibban dan Al-Hakim dari Shafwan bin Assal)
Nabi saw. bersabda: “Bahwa sesungguhnya engkau berjalan pergi mempelajari suatu bab dari ilmu adalah lebih baik baginya dari dunia dan isinya” (HR. Ibnu Hibban dan Ibnu Abdul-Birri dari Al-Hasan Al-Bashari)
Abu Darda’ra. berkata: “Lebih suka saya mempelajari satu masalah daripada beribadah satu malam.”
Dan ditambahnya pula: “Orang yang berilmu dan menuntut ilmu berserikat pada kebajikan dan manusia lain adalah bodoh tidak ada kebajikan kepadanya.”
Atha’ berkata: “Majelis ilmu pengetahuan itu, menutupkan tujuh puluh majelis yang sia-sia.”
Imam Asy-Syafi’i berkata: “Menuntut ilmu itu adalah lebih utama daripada berbuat ibadah sunnah.”
Abu Darda’ berkata: “Barang siapa berpendapat bahwa pergi menuntut ilmu bukan jihad, maka adalah dia orang yang kurang pikiran dan akal.”
Belajar atau menuntut ilmu mempunyai peranan penting dalam kehidupan. Dengan menuntut ilmu orang menjadi pandai, ia akan mengetahui terhadap segala sesuatu yang dipelajarinya. Tanpa menuntut ilmu orang tidak akan mengetahui sesuatu apapun.
Di samping belajar dapat untuk menambah ilmu pengetahuan baik teori maupun praktik, belajar juga dinilai sebagai ibadah kepada Allah. Orang yang belajar sungguh-sungguh disertai niat ikhlas ia akan memperoleh pahala yang banyak. Belajar juga dinilai sebagai perbuatan yang dapat mendatangkan ampunan dari Allah SWT. Orang yang belajar dengan niat ikhlas kepada Allah diampuni dosanya.
Demikian pentingnya  belajar–menuntut ilmu ini sehingga dihargai sebagai jihad fisabililah yaitu pahalanya sama dengan orang yang pergi berperang dijalan Allah untuk membela kebenaran agama.
Srobyong, 7 Februari 2015
Sumber :
[1] Al- Ghazali, Ihya’ Ulumuddinjilid 1,terj.Prof.TK.H.Ismail Yakub MA.SH ”Ihya’ Al- Ghazali jilid 1, cet VI (Semarang :CV Faizan, 1979)
[2] Sofiyah Ramadhani, E. S, Kamus Lengkap Bahasa Indonesia, (Surabaya: Karya Agung).
[3] Dr. M. Ramli Hs., M.Ag.,dkk, Mengenal Islam, (Semarang : Unnes, 2007)
[4] Departemen Agama RI, Alquran Dan Terjemah, (Bandung :Piponegoro : 2000)
[5] Dr. Hj. Nur Uhbiyati, Dasar-dasar Ilmu Pendidikan Islam, (Semarang : PT. Pustaka Rizki Putra, 2003)
[6] Kazuhana El Ratna Mida (Ratna Hana Matsura), http://bersamadakwah.net/pentingnya-menuntut-ilmu/

AYAT QAUNIYAH TENTANG PERGANTIAN SIANG DAN MALAM

A. Pergantian yang Cepat Antara Siang dan Malam Allah Swt berfirman: “Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat.” (Al A’raf 54) :




Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas 'Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam.

            Maksud ayat di atas adalah bahwa siang dan malam , masing2 mengikuti secara cepat dengan tidak terputus. Ayat tersebut mengandung suatu isyarat tentang rotasi bumi yang menyebabkan datangnya siang dan malam. Ayat ini sesuai dengan ilmu pengetahuan modern kita. Dimulai dari hari Ahad dan berakhir sampai hari Jumâ’at. Menurut sebagian ulama, hari di sini seperti hari-hari di dunia. Allah Subhaanahu wa Ta'aala sesungguhnya mampu menciptakan dalam sekejap mata, akan tetapi Allah Subhaanahu wa Ta'aala menghubungkan akibat dengan sebabnya sebagaimana yang dikehendaki oleh hikmah-Nya.

       Bersemayam di atas 'Arsy ialah satu sifat Allah yang wajib kita imani, sesuai dengan kebesaran Allah dan keagungan-Nya. ‘Arsy adalah makhluk Allah yang paling besar, yang merupakan atap seluruh makhluk, dan makhluk yang paling tinggi, dan Allah berada di atas .Sehingga bumi yang sebelumnya terang menjadi gelap dan manusia dapat beristirahat.Setiap kali malam tiba, maka siang pun pergi, dan setiap kali siang tiba, maka malam pun pergi. Besarnya makhluk tersebut menunjukkan sempurnanya kekuasaan Allah. Keteraturan dan kerapiannya menunjukkan sempurnanya kebijaksanaan Allah. Manfaat dan maslahat yang diperoleh daripadanya menunjukkan luasnya rahmat Allah dan ilmu-Nya, dan bahwa Dia adalah Tuhan yang berhak disembah satu-satunya. Demikian pula firman Allah Swt: “Dia menutupkan malam kepada siang dan menutupkan siang kepada malam.” (Az Zumar 5)





Dia menciptakan langit dan bumi dengan (tujuan) yang benar; Dia menutupkan malam atas siang dan menutupkan siang atas malam dan menundukkan matahari dan bulan, masing-masing berjalan menurut waktu yang ditentukan. Ingatlah Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Pengampun. Dia menciptakan langit dan bumi dengan benar dan dalam bentuk yang tetap. Dia menutupkan siang ke dalam malam dan menutupkan malam ke dalam siang secara berulang-ulang. Dia juga menundukkan matahari dan bulan kepada kehendak-Nya dan untuk maslahat hamba-Nya, masing-masing beredar pada porosnya sampai batas waktu yang telah ditentukan, yaitu hari kiamat. Hanya Dialah, bukan yang lain, yang Mahaunggul atas segala sesuatu. Tidak ada sesuatu pun yang keluar dari kehendak-Nya. Dia Maha Pengampun atas dosa hamba-hamba-Nya(1). (1) Ayat ini menunjukkan bahwa bumi berbentuk bulat dan selalu berotasi. Dari segi bahasa, kata "yukawwir" yang digunakan dalam ayat ini berarti 'menutupkan suatu benda ke atas benda lain secara berturut- turut'. Kalau saja bumi ini tidak bulat--datar, umpamanya--tentu siang dan malam di suatu tempat dapat dimungkinkan tampak pada satu waktu secara bersamaan.

          Dan Dialah yang telah menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan. Masing-masing dari keduanya itu beredar di dalam garis edarnya. (Al Anbiya 33)



Allahlah yang menciptakan malam, siang, matahari dan bulan. Semua itu berjalan pada tempat yang telah ditentukan Allah dan beredar pada porosnya masing-masing yang tidak akan pernah melenceng dari garis edarnya. Masing-masing benda langit mempunyai poros dan garis edar sendiri-sendiri. Semua benda langit itu tidak pernah kenal diam, tetapi terus beredar pada garis edarnya yang disebut orbit. Kenyataan ini tampak jelas terlihat pada matahari dan bulan. Demikian halnya dengan peredaran bumi pada porosnya menjadikan siang dan malam datang silih berganti seolah-olah beredar pula.


Sumber :
(Al-Qur’an terjemah versi digital)
 (http://tafsirq.com/)
(El-Fandy, Muhammad Jamaluddin. 2000. Al-Quran Tentang Alam Semesta. Jakarta : Amzah)

ilmu kauniyah

Allah SWT satu-satunya Tuhan yang patut kita sembah. Tiada tuhan selain Allah. Begitu maha kasih dan sayang Allah telah menciptakan alam semesta dan makhluk-makhluknya. Sungguh manusia telah diberikan beragam nikmat dan karunia serta hikmah dan pelajaran.

Sebagai umat nabi akhir zaman sungguh Allah begitu kasihnya dengan memfirmankan langsung apa yang diwahyukannya melalui Al Qur'an. Dengan Al Qur'anlah manusia dapat berinteraksi dengan Rabbnya. Mukjizat nabi yang sangat besar dana gung ini bahkan hingga saat ini terasa sangat manfaatnya bagi dunia dan alam semesta.

Sungguh akan bahagia dan selamat siapa saja yang dapat mengambil hikmah dan pelajaran dari setiap karunia ilmu yang ada dalam Al-Qur'an. Selain itu Allah juga memberikan kita bukti kuasaNya dengan adanya ayat-ayat yang tak tersurat dalam Al Qur'an.

Dan pantaslah kita sebagai hamba dan makhlukNya untuk senantiasa berkhidmat memikirkan setiap kejadian dan hikmah yang ada dari ayat-ayat Qauliyah ataupun Kauniyah.

Qauliyah adalah ayat-ayat yang sudah tertulis dalam Al qur'an sedangkan ayat-ayat Kauniyah adalah ayat-ayat Allah yang ada di sekitar kita alam, kejadian, persoalan hidup, dan semua dinamika yang
ada dalam kehidupan.Sungguh Allah maha pengasih dan penyayang pada setiap makhlukNya.

Ayat-ayat qauliyah mengisyaratkan kepada manusia untuk mencari ilmu alam semesta (ayat-ayat kauniyah), oleh sebab itu manusia harus berusaha membacanya, mempelajari, menyelidiki dan merenungkannya, untuk kemudian mengambil kesimpulan. Allah swt. berfirman: “Bacalah (ya Muhammad) dengan nama Tuhanmu Yang Menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari ‘alaq. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. Yang Mengajar (manusia) dengan perantaraan alam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS. Al-‘Alaq:1-5)

Semoga kita termasuk hambaNya yang berpikir dan senantiasa berdzikir memikirkan setiap ayat yang telah Allah tunjukkan kepada kita orang-orang yang beriman. Semoga Allah senantiasa memberikan jalan yang lurus kepada kita, yaitu jalan orang-orang terdahulu yang telah diberikan nikmat dan bukan orang-orang yang telah diberikan murka....aamiin....

sumber : http://qaukaun.blogspot.co.id/2015/01/qauliyah-kauniyah.html